Pela surga diutara
Pagi sekali kumelangkah
Menetas batas menempuh juntai rimba rasa
Kening yang tergurat dalam titian dokma
Taukah kamu?
Mimbar itu kusiapkan untuk kita.
Aku sedang menunggu tamu…
Sudah siap pula saji dalam nampan cinta ini
Sepotong hati, sebentuk rupa,
Apalagi aku,
Apalagi kamu,
Sekarang sudah siap!
Semua beres!
Cemeti sudah terayun diatas langit
Air mata hujan masuk kembali kedalam awan
Mari kita kecup kening masing-masing
Dengan segera melesat
Meski rancu ranca hasrat
Tetap beda apa yang tinggal dalam cawet
Kelelakianku kewanitaanmu setali untaian
Gila, liar, binal, jahanam apalah itu
Tetap saja……..
Eranganmu berpadu bulan yang tetap kalem
Hanya sumpal kapas, mempanpun hanya sebatas sutra
Tok, tok, tok..
Malaikat berkepala anjing
Bersenda gurau, bercanda candu
Menunggui sebatas pintu
Sudah ya……!!!!!
Mimpiku hari ini sudah banyak
Mungkin besok lagi kita bertemu
Garuk-garuk selangkangan ternyata uangku tidak cukup,
Akupun hanya diam,
sembari mengusap ingus kubenahi pula posisi sempak yang mulai meleset………..
About this entry
You’re currently reading “Pela surga diutara,” an entry on the journey of Gareng
- Published:
- April 23, 2008 / 1:09 pm
- Category:
- poem
- Tags:
- enggar wardoyo, poem, puisi, pujangga tak berjiwa
1 Comment
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]