DIALECTICA with NARCISS’ME
Phoenix beri aku kebebasan
Karena aroma peluh ini menggodaku
Sangat hasrat ingin merabai tubuh ini
Oh, tubuh yang terberkati cintailah akuUntuk dia yang dihadapku
Naga beri aku kekuatan
Untuk dosa naluri yang salah
Seraya birahi yang menggoda
Dan apakah bayang menelanjangiku
Dari dia yang ada dihadapku
Dan,
Terlalu larut dalam keangkuhan
Tak perlu tiupkan aura mu tuhan
Karena ini terlalu menyenangkan
Apa ada yang lebih sempurna?
Melebihi apa yang ada dihadapku
Dan,
Mulailah, jalangnya tangan akan elus
Titik-titik kenikmatan dikulit yang sangat halus
Erangan nistamu akan selalu sabdakan namaku
Yang sangat sensual
Bibir yang ada dihadapku
Dan,
Tetaplah terus
Kau jilati, remaslah, ciumi, setubuhi, menggelinjang
Wahai si mata hitam, tubuh kekar, rahang yang kokoh
Ambil semua
Kamu yang dihadapku
Dan,
Tapi sampai kapan
Ingin kukecup air hujan dikeningku
Selalu manusia yang kukagumi
Diriku, meski kita terpisah cermin
Aku tetap mencintaimu
About this entry
You’re currently reading “DIALECTICA with NARCISS’ME,” an entry on the journey of Gareng
- Published:
- Mei 1, 2007 / 3:37 pm
- Category:
- poem
- Tags:
- enggar, enggar wardoyo, poem, puisi, pujangga tak berjiwa

No comments yet
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]